ekologi air tawar

21 10 2009

LAPORAN PRAKTIKUM
PRAKTIKUM PERAIRAN
PADA BENDUNGAN DAN SUNGAI LAHOR

A. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana fauna sample hewan makrobentos di dasar sungai Lahor?
2. Bagaimana keanekaragaman plankton di danau Lahor?

B. TUJUAN
1. Memaparkan fauna sample hewan makrobentos di dasar sungai Lahor.
2. Memaparkan keanekaragaman plankton di danau Lahor.

C. DASAR TEORI

Hanya 3% air muka bumi ini adalah air tawar. Sebagian besar (kira-kira 99%) dari padatnya dapat membeku dalam glasier dan es atau terbenam dalam akuifer. Sisanya terdapat dalam danau, kolam, sungai, dan aliran, dan disitu menyediakan bermacam habitat untuk komunitas hayati.
Air merupakan faktor luar (eksternal) yang utama sekaligus merupakan medium internal. Habitat air tawar dapat dibagi menjadi dua seri,yaitu :
• Air mengalir, atau habitat lotik (berasal dari kata lotus berarti tercuci). Contohnya: mata air, aliran air (brook-creek) atau sungai.
• Air tergenang, atau habitat lentik (berasal dari kata lenis berarti tenang). Contohnya: danau, kolam, rawa.
Suhu
Air mempunyai beberapa sifat unik yang berhubungan dengan panas yang secara bersama-sama dapat mengurangi perubahan suhu sampai tingkat minimal, sehingga perbedaan suhu dalam air lebih kecil dan perubahan yang terjadi lebih lambat daripada di udara. Sifat-sifat yang penting antara lain : (1) Satu gram kalori (gkal) panas dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 ml (=1 gram) air 1 derajat Celcius lebih tinggi (antara 15° dan 16°), hanya ammonia dan beberapa senyawa lain mempunyai nilai lebih tinggi dari 1. (2) Panas fusi yang tinggi 80 kalori dibutuhkan untuk mengubah 1 gram es menjadi air tanpa mengubah suhunya (dan sebaliknya). (3) Panas evaporasi yang tinggi. Sebagian besar sinar matahari digunakan untuk evaporasi air dari ekosistem di dunia. (4) Kerapatan air tertinggi terjadi pada suhu 4°C, di atas dan di bawah suhu tersebut air akan bekembang dan menjadi lebih ringan. Suhu air paling baik dan efisien diukur dengan menggunakan sensor elektronis seperti termistor. Suhu air dapat mempengaruhi sifat fisika kimia perairan maupun biologi, antara lain kenaikan suhu dapat menurunkan kandungan oksigen serta menaikkan daya toksik yang ada dalam suatu perairan. Suhu air mempengaruhi kandungan oksigen terlarut dalam air. semakin tinggi suhu maka semakin kurang kandungan oksigen terlarut. Suhu air mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses pertukaran zat atau metabolisme dari makhluk hidup dan suhu juga mempengaruhi pertumbuhan plankton. Perkembangan plankton optimal terjadi dalam kisaran suhu antara 25oC-300C.

Kejernihan
Penetrasi cahaya sering kali dihalangi oleh zat yang terlarut dalam air, membatasi zona fotosintesis di mana habitat akuatik dibatasi oleh kedalaman. Kekeruhan disebabkan karena lumpur atau partikel yang dapat mengendap. Kejernihan dapat diukur dengan menggunakan cakram Secchi, yaitu berupa cakram putih dengan garis tengah kira-kira 20 cm dan dimasukkan ke dalam air sampai tidak terlihat daripermukaan. Kedalaman itu disebut kejernihan cakram Secchi yang dapat berkisar antara beberapa cm pada air yang amat keruh sampai 40 m pada air yang amat jernih.
Arus
Air cukup “padat”, maka arah arus amat penting sebagai faktor pembatasan, terutama pada aliran air. Di samping itu, arus sering kali amat menentukan distribusi gas yang vital, garam dan organisme kecil.
Konentrasi Gas Pernafasan
Konsentrasi oksigen dan karbondioksida dalam air tawar sering kali juga terbatas. Pada “zaman polusi” konsentrasi oksigen terlarut dn kebutuhan oksigen biologis sering kali diukur dan merupakan faktor fisik yang paling intensif dipelajari.
Konsentrasi Garam Biogenik
Nitrat dan fosfat memiliki jumlah yang terbatas pada semua ekosistem. Dalam air danau dan aliran air dengan kesadahan rendah, kalsium dan garam-garam lain juga tampaknya terbatas. Kecuali pada beberapa mata air mineral, bahkan pada air dengan kesadahan tertinggi hanya mempunyai kadar garam atau salinitas kurang dari 0,5%, dibandingkan 30-37% dalam air laut. Habitat air tawar dapat mempengaruhi jumlah dan distribusi dari kekayaan kualitas biota. Organisme air tawar mempunyai persolaan tertentu dalam hubungannya dengan pengaturan tekanan osmosis (osmoregulasi). Karena konsentrasi garam dalam cairan tubuh atau sel lebih besar daripada lingkungan air tawar (hiperotnik), maka air cenderung akan masuk ke dalam tubuh secara osmosis melalui membrane semipermiabel.

1. Klasifikasi Ekologis Organisme Air Tawar
Organisme dapat diklasifikasikan berdasarkan niche utama pada posisinya dalam rantai energi atau rantai makanan :
Autotroph (produsen) : tanaman hijau dan mikroorganisme kemosintetik
Phagotroph (Konsumen makro) : pertama,kedua, dst : herbivore, karnivora, predator, parasit, dsb.
Saprotroph (Konsumen mikro atau pengurai) : diklasifikasikan lagi berdasarkan aal bahan organic yang diuraikan
Bentuk kehidupanya atau kebiasaan hidup organisme di dalam laut diklasifikasikan berdasarkan model kehidupannya :
Bentos : organisme yang melekat pada dasaratau hidup di dasar endapan. Contoh : kerang (pemakan penyaring), siput (pemakan deposit).
Eriphyton : organisme (baik tanaman maupun binatang) dan daun dari tanaman yang berakar atau permukaan lain yang menonjol dari dasar.
Plankton : Organisme mengapung yang pergerakannya kira-kira tergantung pada arus. Net plankton adalah plankton yang tertangkap di dalam jaringan yang amat halus yang ditarik dengan perlahan-lahan di dalam air.
Nekton : organisme yang dapat berenang dan bergerak dengan kemauan sendiri (dapat menghindari jarring plankton, botol air, dll). Contoh: ikan, amfibi,serangga.
Neuston : organisme yang beristirahat atau berenang pada permukaan.
Dalam lingkungan air tawar, ganggang merupakan produsen terpenting dan spermatophyta akuatik merupakan posisi kedua. Di antara binatang konsumen, 4 kelompok menyusun sebagian besar biomas dari kebanyakan ekosistem air tawar, yaitu moluska, serangga air, udang-udangan dan ikan. Jadi, kesimpulannya, mahasiswa pemula hendaknya membiasakan diri dengan ganggang, bakteri dan jamur, spermatofit air, udangan-udangan serangga air, moluska dan ikan. Organisme tersebut merupakan actor penting dalam ekosistem air tawar.

Pada umumnya perbedaan antara air tergenang dengan air mengalir adalah:
1. Arus adalah faktor yang paling mengendalikan dan merupakan faktor pembatas di aliran air
2. Pertukaran tanah-air relatif lebih ekstensif pada aliran air
3. Tekanan oksigen dalam aliran air lebih merata dan tida ada stratifikasi termal maupun kimia
a. Arus
Aliran air dan danau tidak dapat dipisahkan secara tegas walaupun arus yang tertentu dan berkesinambungan adalah cirri utama habitat lotik. Kecepatan arus dapat bervariasi di tempat yang berbeda dari suatu aliran air yang sama dan dari waktu ke waktu. Di dalam aliran air yang besar, arus dapat berkurang sedemikian rupa sehingga menyerupai air yang tergenang.
• Peranan arus adalah:
a. membuat kehidupan kolam dan air deras amat berbeda
b. mengatur perbedaan di beberapa tempat dari suatu aliran air.
Kecepatan arus ditentukan oleh : kemiringan, kekasaran, kedalaman, dan kelebaran
2. Pertukaran tanah-air
Pertemuan permukaan tanah-air relatif besar dalam proporsi dibandingkan ukuran habitat aliran air karena kedalaman air dan potongan melintang dari aliran air jauh lebih kecil dibandingkan dengan danau. Aliran air tergantung pada tanah di sekitarnya dan berhubungan dengan kolam, genangan air, dan danau untuk sebagian besar pemasokan energi dasar. Aliran air dapat membentuk suatu ekosistem terbuka yang bertautan dengan sistem daratan dan lentik.
3. Oksigen
Pada kondisi alam oksigen biasanya tidak amat bervariasi walaupun organisme di aliran air lebih menghadapi ekstrem , dalam hal ini suhu dan arus, dibandingkan dengan organisme kolam. Binatang aliran air biasanya mempunyai toleransi yang sempit dan terutama peka terhadap kekurangan oksigen.

Sifat Komunitas Lotik
Aliran air umumnya menunjukkan 2 habitat utama, yaitu air deras dan air tenang. Yang menentukan sifat komunitas serta kerapatan populasi dari komunitas yang dominan diantaranya adalah tipe dasarnya, misalnya kerikil, tanah liat, batuan utama atau pecahan batu. Arus adalah faktor pembatas utama pada aliran deras.
Dasar di air tenang yang lunak dan terus-menerus berubah umumnya membatasi organisme bentik yang lebih kecil sampai bentuk penggali, tetapi bila kedalaman lebih besar lagi, dimana gerakan air lebih lambat , maka lebih sesuai untuk nekton, neuston dan plankton.

DANAU
Penelitian menunjukan bahwa danau yang dalam terdiri atas tiga zona utama, masing-masing dengan ciri komunitas organisme.
• Tepian danau dinamakan zona litoral. Di sini cahaya sampai di dasarnya. Produsen di zona litoral adalah tumbuhan yang berakar sampai ke dasar dan juga algae yang menempel pada tumbuhan tadi dan pada setiap subtrat pada lainnya. Ada berbagai macam konsumen, biasanya mencakup krustasea kecil, cacing pipih, larva serangga, dan siput, demikian pula bentuk yang lebih besar seperti katak, ikan, dan kura-kura.
• Zona limnetik merupakan lapisan air terbuka dan di sini masih dapat terjadi produksi primer. Makin ke dalam kita turun di zona di limnetik, jumlah cahaya yang tersedia untuk fotosintesis makin berkurang sampai sampai pada kedalaman dengan laju fotosintesis produsen menjadi sama dengan laju respirasinya. Pada tahapan ini, tidak terjadi produktifitas primer bersih. Zona limnetik lebih dangkal dalam air keruh daripada di air jernih, dan merupakan ciri yang jauh lebih penting bagi danau daripada bagi kolam. Kehidupan dalam zona limnetik didominasi oleh mikroorganisme terapung, disebut plankton, dan hewan yang berenang secara aktif, disebut nekton. Produsen dalam ekosistem ini ialah algae plankton. Konsumen primer mencakup krustasea terapung mikroskopik (misalnya ; Daphnia Cyclops) dan rotifera. Hewan-hewan ini adalah zooplankton. Nekton cenderung merupakan konsumen sekunder (atau lebih tinggi). Tercakup didalamnya serangga yang berenang dan ikan. Pada umumnya, nekton bergerak bebas di antara zona litoral dan zona limnetik
• Zona profundal. Banyak danau (tetapi sedikit kolam) yang sangat dalam sehingga tidak cukup cahaya mencapai kedalaman yang lebih bawah untuk menunjang produkfitas primer bersih. Zona ini dinamakan zona profundal. Kehidupan dalam zona profundal untuk kalorinya bergantung pada bahan organic yang dialirkan dari zona litoral dan zona limnetik. Zona ini terutama dihuni oleh konsumen primer yang hidup dari serasah ini. Istilah benthos digunakan untuk menggambarkan setiap organisme yang hidup di dasar. Sedimen yang terdapat di dasr zona profundal juga menunjang populasi besar dari bakteri dan fungi. mPembusuk ini menguraikan bahan organic yang mencapainya, membebaskan nutrien organik untuk daur ulang. Dengan aktifitas kedua mikroorganisme itu, bagian akhir energi yang mengalir melalui jaring-jaring makan di danau dihamburkan ke alam sekitarnya. Di daerah dengan perubahan musim yang nyata sekali, pemanasan permukaan suatu danau dalam musim panas mencegah airnya bercampur dengan air yang lebih dalam. Hal ini disebabkan air hangat kurang padat atau pekat daripada yang dingin. Air permukaan mapu memperoleh oksigen terlarut – sebagian dari udara diatas dan juga, karena terdapat di zona limnetik, sebagian dibebaskan ke dalam air dalam fotositesis. Tetapi air di zona protofundal, karena ditiadakan dari kedua sumber oksigen ini, menjadi tergenang. Akan tetapi, dalam musim gugur ketika permukaan air menjadi sejuk, maka menjadi lebih pekat dan mengendap di dasar danau, dan membawa oksigen bersamanya. Hal ini disebut penjungkirbalikan musim gugur. Fenomena serupa, penjungkirbalikan musim semi, terjadi bila es meleleh.Sungai dan muara. Tempat tinggal yang disediakan oleh sungai dan muara

Stratifikasi Termal di Daerah Tropika
Permukaan air di danau di daerah subtropika tidak pernah turun dibawah 4 °C, umumnya menunjukkan suatu penurunan suhu yang tertentu dari permukaan samapi dasar, tetapi hanya terdapat satu sirkulsi umum sepanjang tahu yang terjadi pada musi dingin. Danau di aerah tropika mempunyai suhu permukaan yang tinggi (20°C sampai 30°C) menunjukkan sedikit penurunan suhu dengan bertambahnya kedalaman dan sedikit perubahan suhu musiman pada semua kedalaman. Perbedaan kepadatan air yang disebabkan oleh perbedaan suhu yang kecil dapat menghasilkan strstifikasi yang mantap sepanjang tahun.
Umunya danau buatan ditandai dengan fluktuasi permukaan air dan turbiditas yang tinggi. Produksi dari bentos sering lebih kecil di danau buatan dibandingkan dengan di danau alam. Genangan itu menjadi suatu perangkap panas dan pengekspor makanan, sebaliknya danau alam membuang airnya dari permukaan, jadi fungsinya sebagai perangkap makanan dan pengekspor panas. Karena itu tipe pembuangan air amat mempengaruhi kondisi di bagian hilirnya.
Sebagai tambahan dari pertimbangan suhu, wright (1967) mendaftar pengaruh-pengaruh berikut dari bendungan dengan pembuangan air di dasar:
1. air dilimpahkan dengan salinitas yang lebih tinggi daripada bila air dilimpahkan dari permukaan.
2. Makanan esensial hilang dari bendungan, jadi cenderung untuk mengurangi kapasitas produksi dari bendungan dan pada waktu yang sama menyebabkan eutrofikasi di daerah hilir.
3. Kehilangan karena evaporasi bertambah sebagai hasil dari penyimpanan air yang hangat dan pembuangan air yang dingin dari hipolimnion.
4. Oksigen yang terlarut rendah dari air yang dibuang mengurangi kapasitas dari sungai untuk menerima bahan pencemar organic.
Pembuangan hydrogen sulfide dan senyawa organic yang lain menurunkan kualitas air di hilir dan pada kasus yang ekstrem, membunuh ikan

D. METODE KERJA
a. Tempat dan Waktu
Hari, tanggal : Sabtu, 4 April 2009
Tempat : Danau dan Sungai Lahor
b. Alat dan Bahan
1. Lingkungan sungai
• DO meter
• Turbidi meter
• Stop watch
• Roll meter
• Gabus (sesuatu yang dapat terbawa arus)
• pH meter
• BOD5
• Jala surber
• Ekman dredge akuano
• Ayakan bertingkat tyler screen scale
• Nampan plastik
• Pinset
• Kantung plastik
• Larutan formalin 40% diencerkan menjadi 4%
• Mikroskop stereo
• Aquades
2. Lingkungan Danau
• DO meter
• SCT meter
• Lux meter
• Turbidi meter
• Secchi disk
• pH meter
• water bottlesampler
• sample air
• aquades
• pelampung
• batu pemberat
• tali

c. Cara Kerja
1. Produktivitas primer bersih fitoplankton berdasarkan secchi disk.
 Kedalaman ditetapkan 10cm dari permukaan air untuk kedalaman pertama.
 Kedalaman ditetapkan 10cm+3 sebagai ulangan 2.
 Kedalaman ditetapkan berdasarkan kedalaman secchi disk terlihat masing-masing keluar air sebagai ulangan 3.
2. Produktivitas primer bersih fitoplankton.
 Sampel air diambil pada setiap kedalaman dengan menggunakan bottle sampler.
 Sampel air dipidahkan ke dalam sepasang botol yang dibedakan gelap terangnya.
 Kadar oksigen terlarut diukur dengan 3 kali ulangan.
 Botol gelap terang diletakkan pada masing-masing kedalaman yang telah ditentukan.
 Kadar oksigen terlarut sampel air per botol gelap terang diukur.
3. Pengukurang faktor abiotik.
 Intensitas cahaya, kekruhan air, pH, suhu dan konduktivitas diukur.
4. Dianalisis berdasarkan data.
5. Pengambilan sampel fitoplankton dan zzoplankton.
 Sampel plankton diambil secara horizontal dengan menggunakan jaring plankton masing-masing sebanyak 3 kali.
 Fitoplankton pada jaring dibersihkan dengan menggunakan aquades dan dimasukkan pada botol film (10ml) + tetes formalin 40%.
 Fitoplankton diamati.

E. HASIL DATA PENGAMATAN
Makrobentos (Sungai Lahor)
Plastik Gambar Nama spesies Jumlah
1
Goniobasis virginica

7

Tarebia granifera 3
Alasmidonta undulata 1
2 Pleurocera acuta 6
3 Tarebia granifera 11
4
Paludestrina minuta
13

Tarebia granifera 20
5 Tarebia granifera 6

Data merupakan hasil kompilasi dari seluruh kelompok EkoDas offering A 2007

Ekman dredge (kolam)
Dalam waktu yang bersamaan dengan melakukan pengamatan di sungai, salah satu perwakilan kelompok melakukan pengamatan dengan menggunakan metode Ekmen Dredge (kolam), yang letaknya di sekitar sungai. Pada metode Ekman Dredge (kolam) tidak dilakukan pengukuran faktor abiotik, akan tetapi terkonsentrasi pada pengambilan lumpur untuk mengetahui spesies yang hidup di ekosistem kolam, khususnya yang menempel pada lumpur. Spesies yang didapat adalah sebagai berikut:

Plastik
Gambar Nama spesies Jumlah
1
Goniobasis virginica

7

Tarebia granifera 3
Alasmidonta undulata 1
2 Pleurocera acuta 6
3 Tarebia granifera 11
4
Paludestrina minuta
13

Tarebia granifera 20
5 Tarebia granifera 6

Data Pengamatan Plankton
Ulangan Spesies Plankton Komparatif gambar dari internet Gambar hasil pengamatan Jumlah
1 Navicula sp.
Staurastrum sp.

Stentor sp.
Staurastrum sp.
2 Diatom sp.
Treubaria sp.
Stentor roeseli
Keratella hiemalis
Pediastrum simplex
Closteriopsis sp.

Astranema sp.

Ceratium sp.
Neanthes limnicola

Keratella cochlearis

Trinema sp.
Staurastrum sp.
Microspora sp.
3. Trinema sp.
Staurastrum sp.
Astramoeba sp.

Faktor Abiotik Danau
Faktor Abiotik (waktu pengambilan = 09.15 WIB)
Faktor Abiotik yang di ukur Ulangan Rata-rata
1 2 3
DO 4.75 mg/L 4.83 mg/L 5.01 mg/L 4.86 mg/L
Sechidisk 100 cm 110 cm 112 cm 107.33 cm
Suhu 33.40 C 32.60 C 32.90 C 32.970 C
Salinitas 0.1 g/100 g NaCl 0.2 g/100 g NaCl 0.2 g/100 g NaCl 0.167 g/100 g NaCl
pH 9.5 9.5 9.6 9.53
Turbidimeter 6 mg/L, 27.80 C 6 mg/L, 27.80 C 6 mg/L, 27.80 C 6 mg/L, 27.80 C

Faktor Abiotik (waktu pengambilan = 08.35 WIB)
Faktor Abiotik yang di ukur Rata-rata
DO 4.31 mg/L
Sechidisk 100 cm
Suhu 27.70 C
pH 9.4
Turbidimeter 6 mg/L, 27.70 C

Faktor Abiotik (waktu pengambilan = 09.22 WIB)
Faktor Abiotik yang di ukur Rata-rata
DO 3.83 mg/L
Suhu 33.80 C
Turbidimeter 6 mg/L, 280 C

Faktor Abiotik Sungai
Panjang sungai = 5 m
waktu yang ditempuh = 14.48 s
Kecepatan arus sungai = 0.345 m/s = 1,25 km/jam

F. ANALISIS DATA
Dari data hasil pengamatan didapatkan 3 data pada lokasi yang berbeda. Pengambilan data dilakukan di Lahor pada hari yang sama namun berbeda dalam waktu dan lokasi pengambilan sample. Kelompok data pertama diambil pada pukul 08.35 WIB dengan keadaan cuaca cerah. Dari hasil pengukuran dengan menggunakan turbidimeter didapat kekeruhan danau adalah 6 mg/l. pH air sebesar 9,4. Sedangkan pengukuran intensitas cahaya dengan menggunakan sec chi disk didapatkan hasil cahaya masih dapat menembus air sampai kedalaman 1 m. Sedangkan untuk pengambilan sample air pada kedalaman 5 m dilakukan pada pukul 08.40 WIB. Dari pengambilan tersebut didapat pH sebesar 9,4 dan kadar oksigen yang diukur menggunakan DO meter sebesar 4,31 mg/l.
Setelah dilakukan pengidentifikasian terhadap sample air, didapatkan beberapa organisme. Pengidentifikasian dilakukan dengan menggunkaan buku Botani Tumbuhan Rendah. Organisme tersebut antara lain Navicula sp, Ceratium sp, Radiolaria sp, Stentor sp.
Kelompok data kedua diambil pada pukul 08.55 WIB pada lokasi yang berbeda. Hasil pengukuran suhu air menunjukkan angka 32,97º C. Pengukuran kadar oksigen dengan menggunakan DO meter didapat hasil 4,86 mg/l. Intensitas cahaya yang diukur menggunakan sec chi disk, menunjukkan bahwa cahaya matahari masih dapat menembus perairan sampai kedalaman 107,33 cm. Salinitas air sebesar 0,167 gr,100gr NaCl. Sedangkan untuk pengukuran menggunakan turbidimeter menunjukkan angka kekeruhan air sebesar 6 mg/l.
Hasil pengamatan di laboratorium pada sample air yang didapat untuk kedalaman 5 m ulangan 1, memperlihatkan adanya beberapa organisme yang terkandung pada air tersebut. Yakni Treubaria sp, Diatom, Stentor roeseli, Ceratium sp dan Staurastrum sp. Sedangkan untuk sample air yang didapat pada kedalaman 5 meter ulangan 2. Didapat beberapa jenis organisme yang berbeda dengan ulangan 1. Spesies yang ditemukan antara lain, Pediastrum simplex, Closteriopsis sp, Astronema, Trinema sp, Ceratium sp, Neanthes limnicola, Keratella cochlearis, Keratella hiemalis dan Microspora.
Terdapat sekitar 1500 Treudaria sp. dihitung tiap tetes dalam plakon. 2500 Diatome, 500 spesies nomor 8, 1000 Stentor roeseli, 100 Coratium sp. dan sekitar 1500 buah Staurastrum sp.. Kesemuanya ditemukan pada kedalaman 5 m dibawah permukaan ulangan pertama. Selanjutnya, pada ulangan 5m dibawah permukaan kedua adalah sekitar 3000 jumlah Pediastrum simplex, 1000 buah jumlah Closteriopsis sp , Neanthes limnicola dan Keratella hiemalis. Sedangkan untuk jumlah Astronema dan Microspora masing-masing adalah 1500 buah. Jumlah yang paling sedikit adalah Keratella cochlearis dan Ceratium sp yang masing-masing berjumlah 500 buah.
Kepadatan populasi kelompok plankton yang ditemukan dibawah permukaan sejauh 5m di danau adalah 5,92 untuk Treubaria sp., Stauratrum sp., Astranema, Trinema sp., dan Microspora. Untuk tingkat kepadatan sebesar 3,94 adalah untuk spesies Stentor roeseli, Ceratium sp , Closteriopsis sp , Neanthes limnicola, dan Keratella hiemalis. Pada tingkat kepadatan 1,97 antara lain untuk spesies nomor 8, Keratella cochlearis dan Ceratium sp. Kepadatan spesies Pediastrum simplex adalah 11,83, sedangkan kepadatan tertinggi adalah pada Trinema sp. dengan angka kepadatan 13,81.
Kelompok data ketiga diambil pada pukul 9.22 WIB. Faktor yang dihitung yakni suhu, kadar oksigen terlarut dan tingkat kekeruhan. Suhu air pada danau sebesar 33,8º C. Kadar oksigen terlarut sebesar 3,83 mg/l. Tingkat kekeruhan sebesar 6 mg/l dan suhu udara sebesar 28º C. Spesies yang teridentifikasi pada sample air yang diambil yakni, Staurastrum sp, Trinema sp dan Astranema sp.
Selain di danau, pengamatan juga dilakukan di sungai Lahor yang lokasinya dekat dengan danau di kompleks Lahor. Pengamatan faktor abiotik yang dilakukan di danau hanya mengukur kecepatan arus. Dari penghitungan matematik sederhana, didapat bahwa kecepatan air sebesar 1,25 km/jam. Fauna yang ditemukan di sungai dengan menggunakan jala surber baik di plot 1, 2, 3, 4 maupun plot 5 hampir sama. Hanya saja jumlahnya yang berbeda. Spsies yang ditemukan antara lain Tarebia granifera, Tarebia granifera, Paludestrina minuta, Tarebia granifera, Pleurocera acuta, Alasmidonta undulata, Tarebia granifera dan Goniobasis virginica.

Analisis komposisi dan keanekaragaman hewan makrobentos.
Komposisi = jumlah individu / taksa dalam komunitas
= 67 / 6
= 11.17
• Goniobasis virginica
Kepadatan = Σ individu
m2
= 7 / 0.16 m2
= 43.75
pi = ni / N
= 7 / 67
= 0.10

• Tarebia granifera
Kepadatan = Σ individu
m2
= 40 / 0.16 m2
= 250
pi = ni / N
= 40 / 67
= 0.6
• Alasmidonta undulata
Kepadatan = Σ individu
m2
= 1 / 0.16 m2
= 6.25
pi = ni / N
= 1 / 67
= 0.015
• Pleurocera acuta
Kepadatan = Σ individu
m2
= 6 / 0.16 m2
= 37.5
pi = ni / N
= 6 / 67
= 0.09
• Paludestrina minuta
Kepadatan = Σ individu
m2
= 13 / 0.16 m2
= 81.25
pi = ni / N
= 13 / 67
= 0.19
Indeks Shanon Wiener
No. Nama spesies Jumlah pi ln pi pi ln pi total
1 Goniobasis virginica

7 0.10 -2.3 -0.23 1.1244
2 Tarebia granifera 40 0.6 -0.5 -0.3
3 Alasmidonta undulata 1 0.015 -4.2 -0.063
4 Pleurocera acuta 6 0.09 -2.4 -0.216
6 Paludestrina minuta
13 0.19 -1.66 -0.3154
Jumlah 67

e = H’/ ln s
= 1.1244 / 1.79
= 0.63
Kepadatan Populasi Plankton Danau
5m dibawah permukaan danau – ulangan 1
1. Treubaria sp. = Σ individu
Volume
= 1500 = 5,92
253,5
2. Diatome = Σ individu
Volume
= 2500 = 9,86
253,5
3. Spesies no. 8 = Σ individu
Volume
= 500 = 1,97
253,5
4. Stentor roeseli = Σ individu
Volume
= 1000 = 3,94
253,5
5. Ceratium sp. = Σ individu
Volume
= 1000 = 3,94
253,5
6. Stauratrum sp. = Σ individu
Volume
= 1500 = 5,92
253,5
5 m dibawah permukaan danau – ulangan II
1. Pediastrum simplex = Σ individu
Volume
= 3000 = 11,83
253,5
2. Clasteriofsis sp. = Σ individu
Volume
= 1000 = 3,94
253,5
3. Astranema = Σ individu
Volume
= 1500 = 5,92
253,5
4. Trinema sp. = Σ individu
Volume
= 1500 = 5,92
253,5
5. Ceratium sp. = Σ individu
Volume
= 500 = 1,97
253,5
6. Neanthes limnicola = Σ individu
Volume
= 1000 = 3,94
253,5
7. Keratella cochlearis = Σ individu
Volume
= 500 = 1,97
253,5
8. Keratella hiemalis Rotifera = Σ individu
Volume
= 1000 = 3,94
253,5
9. Microspora = Σ individu
Volume
= 1500 = 5,92
253,5

G. BAHASAN
a. Fauna Sample Hewan Makrobentos di Dasar Sungai Lahor
Sungai merupakan ekosistem yang bersifat lotik. Ekosistem ini dipengaruhi oleh aliran air dan adanya arus. Aliran air tidak dapat dipisahkan secara tegas walaupun arus yang tertentu dan berkesinambungan adalah cirri utama habitat lotik. Kecepatan arus dapat bervariasi di tempat yang berbeda dari suatu aliran air yang sama dan dari waktu ke waktu. Sifat Komunitas Lotik Aliran air umunya menunjukkan 2 habitat utama, yaitu air deras dan air tenang. Yang menentukan sifat komunitas serta kerapatan populasi dari komunitas yang dominan diantaranya adalah tipe dasarnya, misalnya kerikil, tanah liat, batuan utama atau pecahan batu. Arus adalah faktor pembatas utama pada aliran deras. Di dalam aliran air yang besar, arus dapat berkurang sedemikian rupa sehingga menyerupai air yang tergenang mengatur perbedaan di beberapa tempat dari suatu aliran air. Kecepatan arus ditentukan oleh : kemiringan, kekasaran, kedalaman, dan kelebaran. Semakin besar kemiringan arus maka kecepatan arus semakin meningkat, semakin besar kekasaran, kedalaman, kelebaran maka kecepatan arus semakin cepat
Pengamatan faktor abiotik yang dilakukan di danau hanya mengukur kecepatan arus. Dari penghitungan matematik sederhana, didapat bahwa kecepatan air sebesar 1,25 km/jam. Fauna yang ditemukan di sungai dengan menggunakan jala surber baik di plot 1, 2, 3, 4 maupun plot 5 hampir sama. Hanya saja jumlahnya yang berbeda.
Flora dan fauna dapat dijadikan indikator biologis pencemaran sungai yang dapat diamati dari keanekaragaman spesies, laju pertumbuhan struktur dan seks ratio.
Keanekaragaman flora dan fauna ekosistem sungai tinggi menandakan kualitas air sungai tersebut baik/belum tercemar. Tetapi sebaliknya bila keanekaragamannya kecil, sungai tersebut tercemar.
Hewan bentos hidup relatif menetap, sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan, karena selalu kontak dengan limbah yang masuk ke habitatnya. Kelompok hewan tersebut dapat lebih mencerminkan adanya perubahan faktor-faktor lingkungan dari waktu ke waktu. karena hewan bentos terus menerus terdedah oleh air yang kualitasnya berubah-ubah (Oey, et al1., 1978). Diantara hewan bentos yang relatif mudah diidentifikasi dan peka terhadap perubahan lingkungan perairan adalah jenis-jenis yang termasuk dalam kelompok invertebrata makro. Kelompok ini lebih dikenal dengan makrozoobentos (Rosenberg dan Resh, 1993).
Keberadaan hewan bentos pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Faktor biotik yang berpengaruh diantaranya adalah produsen, yang merupakan salah satu sumber makanan bagi hewan bentos. Adapun faktor abiotik adalah fisika-kimia air yang diantaranya: suhu, arus, oksigen terlarut (DO), kebutuhan oksigen biologi (BOD) dan kimia (COD), serta kandungan nitrogen (N), kedalaman air, dan substrat dasar ((Allard and Moreau, 1987); APHA, 1992).
Organisme yang termasuk makrozoobentos diantaranya adalah: Crustacea, Isopoda, Decapoda, Oligochaeta, Mollusca, Nematoda dan Annelida (Cummins, 1975).
Makrobentos yang ditemukan pada dasar sungai Lahor kebanyakan dari kelas Crustacea, dan Mollusca. Spesies makrobentos yang dapat ditemukan antara lain. Tarebia granifera, Paludestrina minuta, Pleurocera acuta, Alasmidonta undulata, dan Goniobasis virginica. Adapun karakteristik dari tiap – tiap macam spesies yang dapat ditemukan antara lain Tarebia granifera memiliki ukuran cangkang beralur, warna hitam kecoklatan, cangkang memiliki ketebalan yang jelas,bagian radula hampir sama dengan Pleuroceride, Spesies ini ditemukan pada tahun 1940 di Hawai atau beberapa di samudra pasifik. Paludestrina minuta bercirikan memiliki alur cangkang yang terlihat jelas, bagian radula memiliki gigi, cangkang berwarna kuning. Pleurocera acuta bercirikan cangkang berwarna kuning kehitaman, alur cangkang tidak begitu jelas, semakin ke bagian ekor cangkang maka semakin runcing, Alasmidonta undulata memiliki cirri-ciri sebagai berikut cangkang berwarna hitam, bentuk cangkang bulat, alur cangkang tidak begitu jelas apabila dibandingkan dengan cangkang dari spesies lain. Goniobasis virginica ciri-cirinya adalah cangkang baian depan berwana kuning namun semakin mendekat ke bagian ekor warna cangkang hitam.Alur cangkang bagian depan tidak jelas berbeda dengan alur cangkang bagian ekor.
Makrobentos merupakan hewan yang dapat hidup di daerah sungai yang berarus dengan kecepatan lebih besar. Semakin besar arus maka pengambilan oksigen dan pertukaran oksigen dan karbondioksida lebih berpeluang besar.Aliran air tergantung pada tanah di sekitarnya dan berhubungan dengan kolam, genangan air, dan danau untuk sebagian besar pemasokan energi dasar. Pada kondisi alam oksigen biasanya tidak amat bervariasi walaupun organisme di aliran air lebih menghadapi ekstrem, dalam hal ini suhu dan arus, dibandingkan dengan organisme kolam. Binatang aliran air biasanya mempunyai toleransi yang sempit dan terutama peka terhadap kekurangan oksigen. Dasar di air tenang yang lunak dan terus-menerus berubah umumnya membatasi organisme bentik yang lebih kecil sampai bentuk penggali

Perbandingan antara keragaman dan keragaman maksimum dinyatakan se-bagai keseragaman populasi, yang disimbulkan dengan huruf E. Nilai E ini berki-sar antara 0 – 1. Semakin kecil nilai E, semakin kecil pula keseragaman populasi, artinya penyebaran jumlah individu setiap jenis tidak sama dan ada kecenderungan satu spesies mendominasi, begitu pula sebaliknya semakin besar nilai E maka tidak ada jenis yang mendominasi (anonim, 2008). Pada penghitungan nilai E diperoleh angka 0.63, hal ini menunjukkan bahwa terdapat satu spesies yang mendominasi yaitu Tarebia granifera
Berdasarkan nilai indeks keragaman jenis zoobentos, yang dihitung berdasarkan formulasi Shannon-Wiener, dapat ditentukan beberapa kualitas air. Staub et all. dalam Wilhm (1975) menyatakan bahwa berdasarkan indeks keragaman zoobentos, kualitas air dapat dikelompokkan atas: tercemar berat (0<H’<1), setengah tercemar (1<H’<2), tercemar ringan (2<H’<3) dan tercemar sangat ringan (3<H<4,5). Kisaran nilai H’ tersebut merupa-kan bagian dari penilaian kualitas air yang dilakukan secara terpadu dengan faktor fisika kimia air. Sedangkan Lee et all. (1978) menyatakan bahwa nilai indeks keragaman (H) pada perairan tercemar berat, kecil dari satu (H2,0) (anonim, 2008). Berdasarkan perhitungan nilai H’, air pada bendungan Lahor mengalami pencemaran namun dalan tingkatan yang sedang yakni sebesar 1.1244.
Kecepatan arus sungai Lahor sebesar 0.345 m/s = 1,25 km/jam dengan waktu tempuh sebesar 14,48 sekon. Angka ini menunjukkan aliran air di sungai tidak begitu deras.

b. Keanekaragaman Plankton di Danau Lahor.
Danau/bendungan merupakan suatu ekosistem air tawar yang termasuk ke dalam habitat lentik atau air tergenang. Perairan tawar termasuk danau (bendungan) atau habitat lentik menempati daerah yang relatif kecil dari permukaan bumi dibandingkan dengan laut dan daratan.
Suhu air dapat mempengaruhi sifat fisika kimia perairan maupun biologi, antara lain kenaikan suhu dapat menurunkan kandungan oksigen serta menaikkan daya toksik yang ada dalam suatu perairan. Suhu air mempengaruhi kandungan oksigen terlarut dalam air. semakin tinggi suhu maka semakin kurang kandungan oksigen terlarut. Suhu air mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses pertukaran zat atau metabolisme dari makhluk hidup dan suhu juga mempengaruhi pertumbuhan plankton. Perkembangan plankton optimal terjadi dalam kisaran suhu antara 250C—300C (anonim, 2008). Suhu pada bendungan Lahor berkisar antara 270C—280C. Hal ini mengakibatkan jumlah plankton pada bendungan Lahor cukup tinggi.
pH (Power of Hydrogen) adalah suatu parameter kimia perairan yang menunjukan jumlah ion H+ yang terurai dalam air. Nilai pH menyatakan tingkat keasaman atau mengukur konsentrasi aktivitas hidrogen ionnya (Wetzel, 2001 dalam Effendi, 2003). Nilai pH juga berkaitan erat dengan karbondioksida dan alkalinitas (Mackereth et al., 1989 dalam Effendi, 2003). Semakin tinggi nilai pH, semakin tinggi pula nilai alkalinitas dan semakin rendah kadar karbondioksida bebas. Keberadaan pH di perairan penting untuk reaksi-reaksi kimia dan senyawa-senyawa yang mengandung racun perubahan asam atau basa di perairan dapat mengganggu sistem keseimbangan ekologi. Berdasarkan nilai kisaran pH menurut EPA (Environmental Protection Agency) untuk kehidupan organisme air adalah 6,5 – 8,5. Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7 – 8.5. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah. Selain itu,nilai pH juga sangat berpengaruh terhadap toksisitas suatu senyawa kimia.Menurut Swingle dalam Hickling (1978), mengatakan bahwa pH yang baik atau cocok untuk budidaya ikan adalah antara 6.50-9.00. Sedangkan titik kematian ikan terjadi pada pH 4.00 untuk asam dan 11.00 untuk basa (Maswira, 2008). pH pada bendungan Lahor berkisar 9 (basa). pH basa ini disebabkan karena wilayah di sekitar bendungan mengandung batuan kapur. pH basa pada perairan ini akan mempengaruhi jenis individu yang dapat hidup di perairan tersebut. Bendungan Lahor sangat cocok untuk budidaya perikanan karena ikan akan baik berkembang pada kisaran pH 6.50-9.00. Berdasarkan PP no 82 tahun 2001 pasal 8 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, klasifikasi dan kriteria mutu air ditetapkan menjadi 4 kelas yaitu:
Kelas 1 : yaitu air yang dapat digunakan untuk bahan baku air minum atau peruntukan lainnya mempersyaratkan mutu air yang sama
Kelas 2 : air yang dapat digunakan untuk prasarana/ sarana rekreasi air, budidaya ikan air tawar, peternakan, dan pertanian
Kelas 3 : air yang dapat digunakan untuk budidaya ikan air tawar, peternakan dan pertanian
Kelas 4 : air yang dapat digunakan untuk mengairi pertanaman/ pertanian
Beberapa parameter yang digunakan untuk menentukan kualitas air diantaranya adalah :
– DO (Dissolved Oxygen)

– BOD (Biochemical Oxygen Demand)

– COD (Chemical Oxygen Demad), dan

– Jumlah total Zat terlarut

Mutu air pada bendungan Lahor merupakan air denga mutu kelas 2 karena air yang dapat digunakan untuk prasarana/ sarana rekreasi air, budidaya ikan air tawar, peternakan, dan pertanian
D. O adalah oksigen terlarut yang terkandung di dalam air, berasal dari udara dan hasil proses fotosintesis tumbuhan air. Oksigen diperlukan oleh semua mahluk yang hidup di air seperti ikan, udang, kerang dan hewan lainnya termasuk mikroorganisme seperti bakteri. Agar ikan dapat hidup, air harus mengandung oksigen paling sedikit 5 mg/ liter atau 5 ppm (part per million). Apabila kadar oksigen kurang dari 5 ppm, ikan akan mati, tetapi bakteri yang kebutuhan oksigen terlarutnya lebih rendah dari 5 ppm akan berkembang. D.O yang terdapat pada bendungan Lahor sebesar 4.333 mg/L, artinya oksigen yang terlarut sebesar 4.333 mg setiap liter air.
Pengamatan pengambilan sampel air bendungan hanya terbatas pada zona litoral dengan spesimen berupa plankton. Plankton adalah makhluk ( tumbuhan atau hewan ) yang hidupnya, mengaoung, mengambang, atau melayang didalam air yang kemampuan renangnya terbatas sehingga mudah terbawa arus.
Plankton yang kami amati merupakan Plankton jaring (netplankton) yaitu plankton yang dapat tertangkap dengan jaring dengan mata jaring (mesh size) berukuran 20 ,um, atau dengan kata lain plankton berukuran lebih besar dari 20 ,um Tipe-tipe utama dari fitoplankton yang ditemukan ialah Diatom (Basillariophyceae) yang memiliki cangkang silika yang menyerupai kotak dengan pigmen kuning atau cokelat di dalam kromatofora yang menutupi klorofil.
Diatom yang ditemukan sebagian besar ialah Navikula. Diatom merupakan organisme yang mampu hidup di lingkungan ekstrem. Selain itu adapula ganggang hijau (chlorophyta) yang termasuk berbentuk sel tinggal seperti radiolaria, selain itu adapula bentuk benang yang terapung atau terikat, dan berbagai bentuk koloni yang terapung. Dalam hal ini klorofil tidak tertutupi oleh pigmen sehingga populasinya terlihat hijau. Dan ganggang hijau-biru (Cyanophyta)yang merupakan ganggang sel tunggal yang sederhana atau membentuk koloni dengan klorofil yang tersebar tertutup oleh pigmen hijau-biru. Selain itu, beberapa spesies yang telah ditemukan dalam perairan tawar (bendungan) diantaranya ialah Straurastum sp, Trinema sp, Astramoeba sp, Navikula sp, Ceratium sp, Radiolaria sp, Stentor sp, Stentor roeseli, Pediastrum sp, Closteriopsis sp, Neanthes limnicola dan Mikrospora
Selain fitoplankton, kami juga menemukan zooplankton yang terdapat di perairan Lahor yaitu Keratella cochlearis, Keratella hiemalis. Kualitas suatu perairan dapat ditentukan berdasarkan fluktuasi populasi plankton yang akan mempengaruhi tingkatan trofik.
c. Ekman Dredge (Kolam)
Dari data pengamtan, spesies yang paling banyak ditemukan pada ekosistem air kolam dengan menggunakan metode Ekman Dredge adalah Tarebia granifera dengan tingkat populasi sample 20. Pada metode Ekman dredge adalah dengan tidak menghiraukan faktor abiotiknya, yaitu hanya faktor biotiknya saja dengan mengambil lumpur pada dasar kolam. Faktor biotic yang utama adalah hewan-hewan atau tumbuhan yang menempel pada dasar kolam atau lumpur tadi. Banyak spesies yang ditemukan dengan metode ini. Spesies yang paling jarang ditemukan adalah Alasmidonta undulata dengan populasi 1 ekor. Hal banyak pengaruhnya, terutama oleh faktor kepadatan populasi yang terjadi pada substrat yang sama dengan tingkat kesuburan air. Namun, karena beberapa faktor abiotiknya tidak diperhitungkan, maka metode ini cukup menggambarkan mengenai keadaan populasi yang ada pada substrat kolam.

H. SIMPULAN
• Perairan tawar termasuk danau (bendungan) atau habitat lentik menempati daerah yang relatif kecil dari permukaan bumi dibandingkan dengan laut dan daratan.
• Suhu air mempengaruhi kandungan oksigen terlarut dalam air. semakin tinggi suhu maka semakin kurang kandungan oksigen terlarut.
• Keberadaan hewan bentos pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik.
• Spesies yang ditemukan pada danau antara lain, Pediastrum simplex, Closteriopsis sp, Astronema, Trinema sp, Ceratium sp, Neanthes limnicola, Keratella cochlearis, Keratella hiemalis dan Microspora.
• Spesies makrobentos yang dapat ditemukan antara lain. Tarebia granifera, Paludestrina minuta, Pleurocera acuta, Alasmidonta undulata, dan Goniobasis virginica.
• Makrobentos merupakan hewan yang dapat hidup di daerah sungai yang berarus dengan kecepatan lebih besar.

About these ads

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: